Ibu, Sang Penerus Peradaban

Sukowati. (Foto: dok. pribadi) KEBANYAKAN orang mungkin lupa bahwa ibu adalah madrasatul ula, sekolah pertama, untuk seorang anak. Atau sibuk melupakan karena tergiur dengan urusan dunia. Secara sadar atau tidak, sebenarnya kelahiran seseorang yang luar biasa di luar sana adalah dari tangan seorang ibu. Ibu merupakan kunci lahirnya calon penerus peradaban. Jadi baik atau buruknya seorang pemimpin nanti tergantung dari tangan seorang Ibu. Ibarat sepeda motor, sebagus dan semahal apa pun sepeda motor itu tetap tidak bisa berjalan jika tidak ada kuncinya. Dia tidak akan berguna dan tidak akan memberikan sumbangan apa pun, padahal jelas ada wujudnya. Bahkan hanya menjadi sampah, tidak usah ada jika tidak memberi perubahan. Terima atau tidak seperti itulah keadaan saat ini.
Saat ini semua orang sibuk, lupa dan lebih peduli pada hal-hal yang berbau politik. Semua surat kabar, televisi, radio, internet pun dipenuhi berita semacam ini. Memang tak bisa dimungkiri bahwa kita tidak bisa lepas dari politik. Tapi bukan berarti masalah yang lain terabaikan. Sebagai seorang yang intelek, sudah seharusnya kita bisa berpikir bijak. Bijak di sini berarti mampu menyeimbangkan dan menyelaraskan segala hal-hal yang berkaitan dengan hidup. Salah satunya bagaimana membentuk penerus peradaban yang baik.
Mau dibawa ke mana nantinya negara ini, maju atau mudur, statis atau dinamis itu semua tergantung pada calon penerus peradaban. Sayangnya para calon ibu atau wanita saat ini enggan untuk belajar bagaimana cara mendidik anak yang baik. Tentunya sesuai ilmu umum dan agama. Kebanyakan wanita gengsi atau takut dianggap galau sudah ingin menikah. Bahkan sebagian dari mereka berpikiran, ”Kan ada baby sitter, ngapain repot-repot belajar. Buang-buang waktu. Toh nantinya semua diurus baby sitter dan bayar lagi. Rugi dong nanti.” Astagfirullah. Pola pikir seperti ini harus dihilangkan. Seharusnya wanita sadar bahwa dia ditakdirkan menjadi seorang ibu. Ibu adalah madrasatul ula. Sebagai madrasatul ula, tentu ibu mempunyai peran penting. Karena segala karakter yang tertanam pada diri anak tergantung dengan apa yang diajarkan oleh ibunya. Seorang pemimpin yang hebat tentu lahir dari seorang ibu yang hebat. Tidak mungkin tidak. Bahkan penulis-penulis novel, artis, politikus, pembalap, pemain bulu tangkis, motivator atau seseorang anda kagumi tidak terlepas dari peran tangan seorang ibu. Wanita harus paham. Oleh karena itu butuh ilmunya untuk mempersiapkan semua.
Selain itu pria juga memiliki peran penting. Walaupun tidak terlibat langsung tetapi memiliki kewajiban untuk meluruskan yang salah dan memberi masukan serta saran. Karena pria adalah pemimpin. Ada sebuah buku yang mengatakan bahwa seorang anak yang baik (baik dari segi apa pun) proses pendidikannya sudah berlangsung sejak dalam kandungan. Pernah disebutkan bahwa seorang anak yang hafal Al-Qur’an karna sejak dalam kandungan si anak sudah dirangsang dengan mendengarkan suara-suara Al-Qur’an, mengajaknya ikut membaca saat di kandungan, serta sering diajak untuk berkomunikasi.
Pria harus tahu, bagaimana memperlakukan wanitanya pada masa itu. Dengan begitu ketika lahir anak akan menjadi tumbuh cerdas. Apalagi ditambah dengan bimbingan seorang ibu sebagai madrasatul ula untuk anak dengan baik. Sungguh anak akan menjadi kaum peradaban yang mampu mengarungi dunia tanpa takut ada ombak yang menghadang; memberi perubahan dengan pemikiran-pemikiran kreatifnya. Menjadi pemecah masalah, bukan menjadi masalah untuk bangsa ini.
Realitanya sedikit sekali yang peduli akan hal ini. Sedikit sekali yang sadar untuk belajar. Mereka sibuk mencari ilmu yang orentasinya hanya untuk mencari pekerjaan. Lantas puas jika sudah mendapatkannya. Terlampau senang dengan apa yang dijalaninya dan lupa bahwa ada hal lain yang juga penting untuk dipelajari. Selain itu media masa seperti koran, internet, televisi, radio dan sebagainya sedikit sekali yang membahas, mengupas dan menayangkan hal seperti ini. Padahal hampir 90% setiap harinya kita mengakses media massa.
Saya hanya berpesan untuk wanita seluruh penjuru Nusantara bahkan dunia, ”Boleh saja kau gantungkan cita-citamu setinggi bintang di angkasa, tapi jangan lupa kodratmu sebagai wanita.” Kita harus tahu dan sadar bahwa takdir wanita adalah menjadi Ibu. Ibu adalah madrasatul ula untuk anak-anaknya. Oleh karena itu lahirkanlah penerus peradaban yang hebat dari tangan wanita. Aamiin.
Share This Post To :
Kembali ke Atas
Berita Lainnya :
- PENGUMUMAN KELULUSAN PESERTA DIDIK TAHUN PELAJARAN 2023/2024
- JADWAL SELEKSI SNPMB TAHUN 2023
- PERUBAHAN NAMA SMAN 1 BUA MENJADI SMAN 10 LUWU
- QUIPPER School IN SMAN 1 BUA
- Cuma ITB yang Mampu Tembus Ranking Dunia
Kembali ke Atas














































